"innallaha laa yandzhuru ila suwarikum wa laa ajsamikum ..
walakinallaha yandzhur ila qulubikum ..."
“Sesungguhnya Allah tidak melihat pada jasad/bentuk(rupa) kalian tapi Allah melihat pada hati kalian..”
Nevermind I'll Find SOMETHING like it :)
Malem
ini nyesek banget rasanya. palagi sambil dengerin lagu-lagu sendu. Ups,
kali ini bukan galau pemirsa! Tapi sebuah untaian kata akibat rasa
kecewa. Kenapa gitu kok bisa kecewa?? Huhuhuhu, sebenarnya menuliskan
serenade cerita ini justru bukan menjadi pelipur rasa kecewa, namun
malah bikin gregetaaannn >,< *lebaysangadh :p
Satnite story ....
Seperti pada satnite-satnite biasanya, gag pernah ada yang spesial sama sekali. Maklumlah, namanya juga single –uhuk-, thats why aku lebih memilih kata single daripada jomblo. Soalnya single is a choice. Sedangkan jomblo is a destiny, right??
cuek kok dipelihara
CUEK?! Ini bukan perlombaan saudara-saudara, tapi ini
sebagai salah satu bentuk sindiran buat kita-kita. Harap dicatet ya, bukan
berarti saya yang nulis udah dapet gelar paling peduli. Nggak juga. Tapi ini
adalah ‘sentilan' buat semuanya, termasuk yang nulis. Hehehe.. bener lho,
banyak banget di antara kita yang cuek abis terhadap segala macam problema.
Kalo udah cuek alias nggak peduli, alamat hidup cuma untuk kesenangannya
masing-masing. Yang lain? Emang gue pikirin? Waduh!
Setan dan Tipuannya
BAB I
PENDAHULUAN
PENDAHULUAN
Kata
setan diantaranya adalah bermkna jin yang kafir. Namun, pertanyaan tetap
muncul, antara lain apa atau siapakah yang dimaksud dengan setan? Dalam makalah
ini akan sedikit membahas tentang setan. Walaupun setan boleh jadi salah satu
nama yang paling populer di kalangan ummat beragama, bahkan yang tdak beragama
sekalipun. Mendengar nama ini, aneka dan puncak kejahatan serta keburukan.
Manusia
tidak harus merujuk ke kamus-kamus bahasa atau mencari kata-kata hikmah dan
penjelasan dari siapapun untuk mengetahui secara umum sifat-sifatnya karena
kata itu telah dipahami oleh manusia sebagai lambang kejahatan atau bahkan
wujud kejahatan sehingga ia bagaikan sesuatu yang bersifat indrawi dan nyata,
bukan imajinatif dan abstrak.
Penggunaan
kata “setan” pada masa ini, sudah sangat umum dan lazim digunakan seperti
istilah “kesetanan”. Kedua kata ini digunakan baik yang beragama maupun yang
tidak beragama, walau dengan makna yang berbeda dalam agama dan sedikit berbeda
dengan pengertian yang hakiki.
mahasiswa ushuluddin ? #apasih
baru nyadar kalo kondisi kita sekarang ini patut disyukuri ..
"kondisi apa ndaa? *mungkin kalian mo jawab kaya gitu-
*aku ngejawab nya gini ..
"uhuk, bersyukur dengan jurusan yang kita ambil pada studi menempuh sarjana ini ...""bagaimana tidak ?
ternyata dari sini khazanah tentang pedoman hidup kita semakin bertambah .. *off course lahh
disaat dunia sedang gencar-gencarnya bersaing tentang teknologi yang tiada habisnya..
"disaat banyaknya umat muslim yang menjadikan 'alquran dan sunnah' sebagai produk akhir"
*pak Lukman Fauroni said
"saat al qur'an dan hadits dijadikan kitab suci yang diagungkan dan ditaroh serta disakralkan, paling banter ya dibaca. Mana bisa ngrasain enaknya masakann kalo punya resep tapi gag dicoba?"
*pak Hasan El-Qudsy said *Deg! mrinding jadina -__-
Metode dan Corak Penafsiran
BAB I
PENDAHULUAN
Al-Qur’an
adalah sumber hukum pertama umat Islam.
Kemampuan setiap orang dalam menafsirkan Al-Qur’an tentu berbeda,
padahal penjelasan ayat-ayatnya begitu jelas. Perbedaan daya nalar diantara
mereka ini adalah sesutau yang tidak dipertentangkan lagi. Kalangan awam hanya
dapat memahami makna-makna lahirnya dan bersifat global. Sedangkan kalangan
cendikiawan dan terpelajar akan dapat memahami dan menyingkap makna-maknanya
secara menarik. Didalam kedua kelompok inipun terdapat aneka ragam dan tingat
pemahaman. Maka tidaklah mengherankan jika Al-Qur’an mendapatkan perhatian
besar dari umatnya melaluai pengkajian intensif terutama dalam rangka
menafsirkan kata-kata yang asing atau dalam mena’wilkan suatu
redaksi kalimat.
Umat Islam
memiliki banyak sekali ahli tafsir, diantara mereka ada dari kalangan shahabat,
tabi’in, tabi’ut tabi’in bahkan ada juga dari ulama zaman ini yang mencoba
untuk menafsirkan ayat Al-Qur’an. Dalam tulisan yang singkat ini kami akan
menganalisa bagaimana Ibnu Katsir dan Ar Razy menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an.


